GEMURUH OMBAK KARANGGONGSO
Matahari mulai menyeringai menampakkan panasnya. Sabtu siang di sebuah sekolah menengah atas ketika jam sekolah berakhir, suasana sudah mulai lengang. Sebagian besar siswa dan guru sudah meninggalkan sekolah, tetapi beberapa anak masih menunda kepulangan mereka. Ada yang latihan upacara, ikut kegiatan ekstrakulikuler, mengerjakan tugas, bermain bola, dan bahkan ada juga yang hanya melihat-lihat mading sekolah.
Di depan mushala yang teduh, selepas sholat dhuhur tiga orang gadis berbincang membicarakan rencana mereka di akhir pekan.
“Ra, kamu sudah bawa surat tugas itu khan?” seorang di antara mereka mengawali.
“Siip, sudah aku simpan rapi di dalam tas,” gadis yang dipanggil Rara itu menjawab. Tangan kanannya mengacungkan jempol, tangan kirinya menepuk-nepuk tas samping berwarna kopi susu.
“Yo wis bagus, tapi besok jangan lupa dibawa ya! Aku akan pinjam recorder kakakku. Kita kumpul jam 6 pagi di terminal. Bisa khan? … biar nggak kesiangan,” gadis yang tadi mengawali pembicaraan, melirik kedua temannya.
“Yup, insya Allah, Ri. Eh, kasetnya…??” seorang gadis hitam manis bertanya. “Dan … selain itu, apa yang perlu kita bawa lagi?” lanjutnya.
“Itu Lin, cemilan dan air nggak boleh ketinggalan. Ya khan??” sahut Rara.
“Ra, kalo itu sih soal gampang. Yang penting kamu bawa surat tugas itu. Soal kaset …,” Nuri mengernyitkan dahinya, matanya melirik ke atas. “Gampanglah, kaset kosong kakakku baru terpakai sedikit, jadi masih bisa kita gunakan,” jawabnya kemudian. “Dan satu lagi, baterai kecil buat cadangan, ya kalau tiba-tiba baterai recorder kakakku habis. Ngerti khan?” Nuri menegaskan, sorot matanya mengarah ke Rara.
“Iya deh, Ri. Nggak usah sewot gitu, aku khan cuma bercanda. Pulang ini deh aku bakal langsung mampir toko,” Rara mengedikkan alisnya yang tebal sambil menaikkan kacamatanya yang turun beberapa mili.
“Hei, hei …, sudah siang nih. Besok kumpul di terminal jam 6 pake seragam ya!”
“Pakai seragam ini maksud kamu?” tanya Rara. Tangannya memegangi baju.
“Iya.. Nggak usah dicuci, dijemur aja biar nggak bau. Kalau pakai baju biasa bayarnya lebih mahal,” jawab Nuri.
“Yup, logis koq. Aku setuju dengan Nuri. Orang-orang juga nggak akan ngira kalo kita cuma mau ngejar tarif murah. Hari Minggu khan biasanya banyak yang pada ikut pramuka.”
“Jadi… sampai jumpa besok ya. Aku udah kesiangan nih, nanti nggak dapat colt.”
“Ya, udah ngerti koq. Aku juga sudah ditungguin Dewi, hari ini aku masih ada ekskul. Insya Allah aku ingat koq, Ri,” Rara tiba-tiba ingat Dewi yang sedang menunggunya di depan Laboratorium Fisika. “Assalamu’alaikum…,” ucap Rara buru-buru.
“Oke. Lin, aku juga pamit pulang dulu ya. Assalamu’alaikum…” Nuri menjabat tangan Alin, kemudian Rara.
“Wa’alaikumsalam …”
Cepat-cepat ketiga gadis berjilbab itu saling berjabat tangan dan beralih dengan urusan mereka masing-masing.
*****
Di ufuk timur langit biru telah berhias semburat jingga. Malu-malu, mentari mengintip dari balik gunung. Burung-burung kecil bernyanyi menyambut datangnya pagi. Udara masih segar, tapi kebisingan mesin-mesin kendaraan besar sudah mulai memecah kebisuan terminal Surodakan. Di depan kantor agen tiket perjalanan sudah berkumpul tiga orang gadis berjilbab.
“Wah, telat nih. Afwan ya! Kalian sudah lama ya di sini? Aku baru saja menitipkan motorku di sana” Alin menunjuk sebuah bangunan di pojok belakang terminal yang bertuliskan ‘Penitipan sepeda + sepeda motor’.
“Aku juga baru datang koq Lin” kata Rara.
“Eh, sebenernya bajuku bukan seragam lho. Cuma rokku aja nih yang coklat,” Alin menunjukkan ujung blouse hijau pupusnya yang tersembunyi di balik jaket.
“Yah, nggak pa pa deh. Mm.. Masih jam enam seperempat, masih pagi. Busnya juga belum berangkat,” ujar Nuri. “Eh hey, itu busnya berangkat,” ia menunjuk sebuah kendaraan besar berplat kuning. “Ayo, cepat!”
Nuri mengangkat tangannya mencegat bus yang melaju pelan. Bus bercat putih oranye itu berhenti. Segera saja Alin, Rara, dan Nuri, masuk ke dalam bus. Masih sepi. Hanya ada dua orang penumpang di dalam bus besar ini. Seorang perempuan tua yang memakai sweater abu-abu berbahan wol, duduk sendiri di bangku paling depan di dekat pintu. Tangannya memeluk sebuah tas rajut besar berwarna coklat. Di belakangnya, seorang laki-laki paruh baya sedang menghisap rokok sembari menatap keluar jendela yang berembun. Rara, Alin, dan Nuri kemudian memilih tempat duduk di belakang supir.
Bus sudah meluncur melewati pasar Rejowinangun yang ramai. Aktivitas sudah nampak di sana sini. Banyak orang yang sibuk membersihkan rumah mereka. Lalu lalang kendaraan pun sudah terasa meningkat.
Mereka terus melaju melalui Desa Ngadirenggo. Di kiri jalan ada hamparan sawah yang luas bagaikan karpet beludru raksasa berwarna hijau zamrud. Angin semilir yang dingin menembus masuk ke dalam bus melalui pintu yang terbuka. Di dalam bus sudah bertambah beberapa penumpang lagi. Sekarang bus kembali melewati rumah-rumah persegi beratap limas, di sisi kanan dan kiri jalan.
Akhirnya mereka sampai di Durenan, meskipun mereka sempat oper bus di perempatan Bendo karena bus yang mereka tumpangi mengalami sedikit masalah. Setelah turun dari bus, tiga remaja itu mencari colt yang menuju ke kecamatan Watulimo, tempat yang sebenarnya ingin mereka tuju. Alhamdulillah, mereka tidak harus menunggu lagi karena sudah ada colt jurusan Prigi yang siap berangkat. Segera saja kendaraan itu melesat melewati jalan aspal yang masih lembab, baru diguyur hujan. Beberapa kali colt itu berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Sampai di Slawe, jalanan mulai berkelok-kelok, kadang menanjak, kadang turun. Memasuki kecamatan Watulimo memang melewati bukit-bukit kecil. Kecamatan ini sendiri merupakan wilayah perbukitan dan dataran tinggi yang dataran rendahnya bergandengan dengan pantai-pantai berpanorama indah seperti Prigi dan Karanggongso.
Satu jam kemudian colt berhenti di desa Tasikmadu. Saatnya untuk turun bagi Nuri, Rara, dan Alin. Beberapa penumpang lain juga ikut turun.
“Eh, rumah mbak-ku sudah deket koq dari sini. Semoga dia bisa membantu kita atau kalau mungkin, kita bisa mewawancarainya.” Nuri memberi isyarat pada dua sahabatnya untuk mengikutinya. Tanpa berkata apa-apa lagi ketiganya berjalan menyusuri jalan aspal yang belum kering tersiram hujan.
Mereka berbelok ke kanan ke jalan setapak yang sejajar dengan sebuah sungai kecil yang mengalir tenang. Di sisi lain jalan setapak itu, beberapa rumah dengan halaman yang tidak begitu luas, berderet menghadap jalan setapak. Nuri berhenti di depan sebuah rumah berpagar kayu.
“Tunggu sebentar ya, aku mau tanya dulu,” Nuri berujar cepat, mengisyaratkan kedua temannya untuk menunggu.
Tapi mereka tidak perlu menunggu, karena seorang laki-laki beruban dan bertubuh gempal, keluar dari rumah itu. “Ada perlu apa mbak?” tanyanya.
“Mbak Tanti ada, Pak?” Nuri ganti bertanya.
“Wah, sedang keluar,” laki-laki itu menjawab.
“Jam berapa kira-kira pulangnya?”tanya Nuri lagi.
“Biasanya sih siang baru pulang. Mbak-mbak ini ada perlu apa to?”
“Kami mau nanya-nanya soal Larung Sembonyo. Mm … semacam tugas sekolah begitu,” Nuri menjelaskan.
“Oo… kalau begitu tanya Pak Lurah saja. Rumahnya sekitar tiga kilometer dari sini. Mbak naik becak saja. Mbak cukup bilang rumah Pak Lurah, tukang becaknya sudah ngerti. Ongkosnya lima ribu,” Bapak itu menjelaskan panjang lebar.
“Baik, Pak. Kalau begitu terima kasih. Permisi.., assalamu’alaikum…,” Nuri berpamitan. Rara, dan Alin mengangguk seraya tersenyum kecil pada Bapak itu dan mengikuti Nuri, menyusuri jalan setapak lagi.
“Ri, Mbak Tanti tu memangnya bukan saudara kamu ya, koq Bapak itu nggak kenal sama kamu. Trus, kamu nggak bilang dulu ya ke Mbak Tanti kalo kamu mau ke sini,” Rara menuntut penjelasan Nuri.
“Ya… mbak Tanti tu cuma kenalanku, tapi sudah aku anggap mbak-ku sendiri. Aku memang nggak bilang kalau aku mau ke sini,” Nuri menjawab.
“Yah…,” kata Rara datar. Wajahnya bersungut, tatapannya kecut.
“Heh.. tadi koq kamu bilang tugas sekolah?” Alin yang dari tadi diam ikut nimbrung.
“Sama aja khan? Kita bikin karya tulis khan juga dengan ijin sekolah. Kita punya surat tugas yang bisa kita tunjukkan kalau Bapak itu tidak percaya,” ujar Nuri.
“Dan… kita tidak mungkin mengatakan pada orang-orang di sini kalau kita sedang mengadakan penelitian mengenai unsur syirik yang terdapat pada kegiatan yang mereka anggap sebagai adat budaya,” Rara menambahkan. Kekesalannya ternyata sudah reda.
Mereka sudah sampai kembali ke tempat mereka turun dari colt tadi, mencari becak yang sedang parkir di tempat itu. Setelah berunding dengan tukang becak, mereka bertiga menaiki sebuah becak bercat putih-kuning. Sekali lagi, atas pertimbangan biaya, mereka rela berdesakan duduk di becak itu. Alin yang tubuhnya lebih kecil dari kedua temannya, dipangku ditengah. Karena itulah, sepertinya setiap orang yang melihat, mengamati keheranan. Perjalanan ke rumah Pak Lurah itu juga kurang menyenangkan karena jalanan yang dilewati masih dimakadam. Berbatu dan berkerikil. Membuat tubuh mereka bertiga bergoyang-goyang sendiri dan seolah mau terlempar dari becak itu. Jarak yang hanya tiga kilometer serasa tiga puluh kilometer jauhnya.
Tukang becak menghentikan becaknya tepat di depan sebuah rumah bercat putih, berporselen merah, yang lumayan besar dengan halaman yang cukup luas. Pagar temboknya hanya sebatas perut, tanpa pintu. Rumah itu kelihatan sepi, pintu dan jendelanya tertutup rapat. Di bawah undakan teras hanya ada sepasang sandal jepit.
Rara mengambil uang lima ribuan dan memberikannya pada tukang becak, yang lain mengamati rumah itu dengan seksama.
“Menurutmu, ada orangnya apa tidak?” Nuri bertanya pada Alin.
“Sepertinya ada, kita ketuk saja pintunya,” Alin berjalan mendekati rumah dan menaiki undakan teras. Nuri dan Rara menyusulnya kemudian.
“Assalamu’alikum…,” mereka berdiri di depan pintu menunggu jawaban. Hening… tak ada suara apa pun yang menjawab salam mereka atau membukakan pintu untuk mereka.
“Assalamu’alaikum…,” mereka mengetuk pintu lagi, lebih keras.
Beberapa kali mereka mencoba memberi salam dan mengetuk pintu, tapi hasilnya nihil. Akhirnya mereka mengenyakkan diri di kursi teras, menyelonjorkan kaki.
“Hh… mungkin nggak ada orangnya, Lin,” Rara bergumam.
“Trus… gimana dong?” sahut Nuri. Ia memasukkan lagi recorder yang baru dikeluarkannya dari tas. Rara memainkan pena di tangannya, mengetuk-ngetukkannya di meja.
Dari garasi rumah terdengar suara. Pintunya terbuka. Sebuah mobil kijang merah keluar dan berhenti setelah semua bagiannya berada di luar garasi. Seorang laki-laki berkumis tipis, berbadan tegap, berpakaian rapi, keluar dari mobil itu dan menutup kembali pintu garasinya. Cepat-cepat Rara, Nuri, dan Alin berdiri, memakai sepatu mereka.
“Assalamu’alaikum…, Pak Lurah ya?” Alin menyapa laki-laki itu. Tak ada jawaban. Laki-laki itu hanya diam mengamati mereka bertiga.
“Bisa minta tolong Pak? Kami ingin memperoleh informasi mengenai Larung Sembonyo,” lanjut Alin segera.
“Untuk penelitian tugas sekolah Pak,” buru-buru Nuri menambahkan.
“Sepertinya saya tidak bisa. Saya minta maaf karena sedang ada urusan ke Durenan. Kalian bisa menanyai Pak Sarto, yang lebih tahu. Rumahnya di Karanggongso sana. Kalian bisa lewat tikungan kiri jalan ini, lalu belok kanan, terus lurus saja, nanti kalian bisa mencegat colt yang ke Karanggongso di jalan aspal dekat sawah-sawah,” laki-laki itu menggerakkan tangannya menjelaskan dan segera masuk mobil lagi, menghidupkan mesin, dan membawa mobilnya meninggalkan rumah.
Nuri, Alin, dan Rara diam termenung lemas saling pandang. Ada raut kekesalan dan kekecewaan di wajah mereka. Rara menatap lekat mata sahabat-sahabatnya bergantian. Ia tahu keduanya sudah mulai putus asa, tapi ia juga bisa merasakan semangat mereka yang membuncah untuk melanjutkan misi mereka. Tidak hanya untuk mendapatkan trofi kemenangan dan hadiah uang, tapi lebih dari semua itu. Mereka ingin membuka mata masyarakat mereka yang mencampuradukkan kesyirikan dengan budaya leluhur, yang penuh dengan mitos-mitos yang jauh dari syariat islam. Mereka tahu bahwa peluang yang mereka dapatkan sangat langka. Mereka bisa berkarya sekaligus ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tak banyak kesempatan seperti ini.
“Ehm… kalau kita berdiri di sini terus, kita tidak akan pernah sampai ke rumah Pak Sarto,” Rara memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya dan tersenyum penuh arti. Ia berjalan menuju jalan bermakadam. “Kalian tidak akan membiarkanku berjalan sendirian khan?” ia menoleh kepada Nuri dan Alin, masih tersenyum sambil membenahi kacamatanya yang melorot. Kedua temannya berpandangan, saling tersenyum, dan berlari mendekat.
“Yah, kami tau kamu tidak akan berani sendiri, ha..ha..” Nuri menepuk pundak Rara, tertawa kecil.
Rara merengut,” Kamu pikir aku penakut, yeah… . Awas ya!” ia menggoyangkan telunjuknya memperagakan gerakan menggelitik. “Aku tahu kalau kamu paling tidak suka ini, he..he..he,” wajahnya menyeringai penuh kemenangan.
Nuri menjauh menghindarinya. “Coba saja kalau bisa,” kata Nuri. Rara mengejarnya.
“Hei, tunggu aku,” Alin mengikuti mereka.
Tiga siswi SMA itu menyusuri jalan-jalan yang masih dimakadam, masih dengan canda dan guyonan segar untuk menghilangkan sedikit kejengkelan mereka. Sesekali mereka berhenti untuk menanyakan jalan kepada penduduk sekitar.
Mereka sampai di sebuah pertigaan. Jalan di depan mereka sudah beraspal. Di seberang mereka ada petak-petak sawah dan pohon-pohon yang berjajar rapi di pinggir jalan.
“Wah belum ada colt yang lewat ya?” Rara menengok ke kanan dan ke kiri.
Sejenak mereka memandangi jalanan yang kosong. Lalu lintasnya tidak begitu ramai. Hanya beberapa kendaraan pribadi yang melintas di situ. Beberapa motor berseliweran jarang-jarang. Lelah menunggu sambil berdiri, Alin naik dan duduk di sebuah tempat duduk tinggi dekat pohon rindang yang terbuat dari susunan belahan-belahan bambu yang ditata sedemikian rupa dan disangga oleh bambu-bambu yang dipotong besar-besar. Rara dan Nuri juga ikut duduk di situ.
“Hhh… ,” Rara menghela napas panjang, meregangkan ototnya.
“Mana ya coltnya? Adanya yang arah balik” gumam Nuri. Sebuah colt melintas dari arah kiri mereka.
“Kita tunggu saja. O iya, aku ada wafer,” ujar Alin, membuka tasnya, mengeluarkan bungkusan berbentuk balok.
“Yang ini baru asyik. Ternyata kamu dengerin aku juga ya,” wajah Rara yang semula manyun menjadi ceria. “Eh… aku bawa cemilan juga sih,” katanya sambil mengambil sepotong wafer dari bungkusan yang dikeluarkan Alin. Tangan kirinya membuka tas kopi susu.
“Nanti saja. Jangan dihabiskan di sini,” tangkas Nuri.
Mereka makan wafer sembari mengamati jalanan di hadapan mereka. Sampai wafer di dalam bungkusan itu hampir habis, belum ada satu pun colt yang melaju ke arah yang mereka tuju.
Alin turun dari tempatnya duduk, menggeliatkan tubuhnya ke kiri. “Kalau kita jalan kaki, jauh nggak ya?”
“Emm… sepertinya jauh,” Rara ragu-ragu.
“Kalo belum kita coba mana kita tahu,” Nuri ikut turun.
“Ya… kalo gitu kita jalan kaki saja,” Rara turun juga.
Mereka kemudian berjalan di sepanjang jalan itu. Melewati rumah-rumah penduduk, sawah-sawah, kebun-kebun, jalan menanjak, jalan turunan, beberapa kali berhenti mengistirahatkan diri, jalan lagi, dan akhirnya mereka sampai di kawasan wisata Pasir Putih Karanggongso. Mereka berhenti sejenak memandangi laut yang sedikit tertutupi oleh pepohonan. Nuri mengambil recorder dan duduk di buk sebuah sungai kecil. Ia merekam suaranya sendiri, berlagak seperti seorang reporter televisi.
“Nuri, jangan main-main dengan recordernya. Jangan sampai kasetnya penuh hanya untuk ini ya!” Rara menghampiri Nuri.
“Pemandangannya sedang bagus nih. Nanti bisa dihapus lagi koq,” Nuri menjauhkan recorder ditangannya dari tangan Rara yang ingin merebutnya.
“Huhm… ya sudah. Kita jalan lagi yuk. Kita belum mencari rumah Pak Sarto,” Rara menurunkan tangannya.
“Kita tanya ibu-ibu itu yuk. Kelihatannya orang sini,” Alin menunjuk seorang wanita yang membawa tas belanja penuh sayuran. Mereka bertiga menghampiri wanita itu.
Mereka kemudian mengikuti alur jalan yang ditunjukkan wanita itu. Ternyata mereka telah berjalan cukup jauh dari pantai. Setelah sampai di gang yang dimaksud, mereka mulai bertanya lagi untuk memastikan rumah Pak Sarto. Mereka menyapa seorang wanita yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan rumahnya.
“Permisi Bu, assalamu’alaikum….Rumahnya Pak Sarto yang mana ya?” Rara bertanya.
“Wa’alaikumsalam.. O rumahnya Pak Sarto yang itu, Mbak,” wanita itu menunjuk sebuah rumah bercat biru. “tapi, sekarang orangnya sedang tidak di rumah, sedang cari kayu di gunung.”
“Eng… ini Bu, kami mau cari informasi tentang Larung Sembonyo. Bagaimana ya Bu?” sahut Alin segera.
“Oo… kalau itu sebaiknya tanya Pak Uceng. Kalau Pak Sarto itu biasanya yang baca doa. Ya malah tidak begitu tau mbak,” jelas ibu itu. “Kalau rumahnya Pak Uceng, mbak balik lagi lewat jalan yang mbak lalui tadi. Nggak jauh koq. Rumahnya setelah jembatan pas kiri jalan,” terangnya.
“Wah, kalau begitu terima kasih banyak, Bu. Assalamu’alaikum,” Nuri pamit.
Mereka kembali lagi menyusuri jalan yang tadi mereka lewati. Mereka mengayunkan kaki mereka dengan sedikit lemas, merasa seperti bola yang disodok kesana kemari. Akan tetapi, mereka tidak ingin menyerah dan terus melangkah.
“Hey … ini ya jembatannya. Berarti itu rumah Pak Uceng,” Alin memberi tahu kedua temannya.
“O iya,” sahut Rara.
Mereka melewati halaman rumah yang tak berpagar itu dan mengetuk pintu. Seorang ibu yang memakai kaos oblong berkulot, membukakan pintu, dan mempersilakan masuk. Mereka memastikan bahwa rumah itu benar rumah Pak Uceng dan segera mengutarakan maksud mereka.
“Kalau keluarga sini tu hanya yang nyiapin-nyiapin, Mbak. Saya antarkan saja ke rumah Mbah Uceng, bapaknya suami saya. Sepertinya ada di rumah. Itu rumahnya,” ibu itu menunjuk sebuah rumah joglo yang hanya berjarak beberapa meter di samping rumahnya. Ia kemudian keluar dari rumahnya dan masuk ke rumah joglo itu. Alin, Rara, dan Nuri menunggu di luar.
“Ada, Mbak. Sebentar lagi orangnya keluar,” katanya setelah keluar dari pintu samping rumah joglo.
“Alhamdulillah…,” ucap Rara, Alin, dan Nuri bersama-sama. Wajah mereka kini diliputi kelegaan.
Sesaat, seorang laki-laki tua, beruban, berkaos oblong; berjalan pelan keluar dan mempersilakan mereka duduk di kursi dekat meja persegi panjang. Nuri menyiapkan recorder, Rara mengambil notebook dan pena. Sedangkan Alin mulai mengatakan keinginan mereka dan mulai menanyai bapak tua yang dipanggil Mbah Uceng itu. Beberapa pertanyaan mereka lontarkan, mereka rekam dan catat.
Kurang dari satu jam, wawancara itu selesai. Mereka mengucapkan terima kasih dan berpamitan. Setelah itu, mereka kembali melewati jalan yang mereka lalui untuk kembali pulang.
Jam dua belas siang mereka sudah sampai lagi di Pantai Karanggongso. Pantai sudah lebih ramai dari pada ketika pertama mereka melewatinya. Banyak orang yang melepaskan kepenatan mereka dengan berakhir pekan di pantai ini.
“Sudah jam dua belas, kalian nggak sholat?” Rara melihat jam di ponselnya.
“Kalian? Memangnya kamu nggak sholat?” tanya Nuri penuh selidik.
“Mm… aku … libur. Kamu tau maksudku khan?”
“Ya.. ya.. ya.. pantesan dari tadi emosi kamu naik turun,” Nuri menyenggol Rara.
Rara nyengir. “Ah.. udah ah. Tu ada mushola,” ia menunjuk bangunan berjendela kaca di ujung jajaran toko dan warung yang menghadap pantai.
Sementara Nuri dan Alin ke mushola, Rara duduk menunggu di sebuah bangku kecil menghadap pantai. Tapi tak lama kedua temannya sudah kembali.
“Lho sudah sholat? Koq cepet banget?” tanya Rara.
“Airnya nggak ada. Kita sholat di Tasikmadu aja,” jawab Nuri.
“Eh, kalo gitu kita makan dulu aja,” kata Alin.
Mereka memilih sebuah warung terdekat yang menghadap ke pantai. Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai dan membayar makanan mereka.
“Alhamdulillah, kenyang deh,” Rara memegangi perutnya
“Eh, mumpung di sini kita ke pantai dulu yuk,” ajak Nuri. Ia sudah setengah berlari menuju pantai.
“Tunggu Ri,” Alin dan Rara mengikutinya.
“Kalian nggak sholat dulu?” tanya Rara.
“Sudahlah, masih jam dua belas seperempat,” Nuri menjawab santai dan duduk di sebuah batu yang tidak begitu besar. Alin ikut duduk di batu itu, sedangkan Rara memilih duduk di akar pohon yang menekuk keluar dari tanah berpasir putih, di dekat batu tempat teman-temannya duduk.
Mereka memandangi lautan luas yang biru berkilauan terkena sinar matahari. Langit tampak cerah biru muda berawan putih tipis. Di kejauhan terlihat pulau-pulau kecil yang berwarna hijau karena pohon-pohon yang tumbuh di atasnya. Ketiga gadis itu memandang takjub lukisan alam yang begitu indah, karya seniman terbesar, Rabbul Izzati. Semilir angin mengibar-ngibarkan jilbab mereka yang terjuntai dengan lembut.
“Hmm… kita dengarkan hasil wawancara kita,” Nuri mengambil recorder dari dalam tasnya. Merewardnya, kemudian menekan tombol play dan mendekatkannya ke telinga.
“Heh… koq gini suaranya,” Nuri menjauhkan recorder itu dari telinganya dan mendekatkannya lagi.
“Coba, aku yang dengerin,” Rara meminta recorder itu dan mendekatkannya ke telinga. Beberapa detik hanya terdengar suara gemerisik tak jelas, tapi setelah itu terdengar suara berat dan parau, seperti suara laki-laki menggeram. “…Dengarkan …suara lautnya….” Tiba-tiba saja Rara merasakan bulu kuduknya berdiri, merinding. Deburan ombak yang lembut seakan bergemuruh ingin menelannya. Tubuhnya kaku, wajahnya yang cerah menjadi pucat pasi. Ia teringat pada suara yang hampir sama yang tiba-tiba muncul di antara suara teman-temannya dalam kaset rekaman drama Pensi setahun yang lalu, ketika mereka masih duduk di kelas sepuluh. “AAAAAAAAAA……AAA,” ia berteriak sekuat tenaga. Ia menyerahkan kembali recorder itu ke Nuri.
“AAAAAAAAAAA….,” terdengar teriakkan kedua. Kali ini suara Nuri. Sesaat kemudian ia memberikan recorder itu pada Alin, berlari menjauhi bibir pantai, menelepon entah siapa, dan berjongkok di bawah sebuah pohon nyiur. Tubuhnya gemetaran, wajahnya berkeringat.
Alin terbengong-bengong melihat kedua sahabatnya, memandang mereka bergantian. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka berdua. Recorder itu masih dipegangnya. Rara yang mulai mendapat kesadarannya, menjawab kebingungan Alin, matanya berair. “Ada… suara laki-laki … parauu… seperti di kaset.. kaset drama kita. Itu … itu bukan suara Mbah Uceng,” napasnya pendek-pendek, tangannya berkeringat.
Alin menatap Rara beberapa saat dan menghampiri Nuri yang meringkuk memegangi Hp. Rara mengikuti Alin. Ia sudah bisa menguasai dirinya. Orang-orang yang tadinya bersantai dan bermain-main di bibir pantai, melihat ke arah mereka, mencari tahu apa yang sedang terjadi dan dalam sekejap tiga remaja itu sudah dikerumuni orang-orang yang penasaran.
“Nuri… Nuri… apa yang terjadi sama kamu. Kenapa jadi kamu yang syok begini. Apa yang kamu lakukan di sini?” Rara memegangi tangan Nuri.
“Aku… aku bingung…aku menelepon Nano, aku cerita padanya. Tapi ia sedang tidak di rumahnya di Prigi. Ia masih di Trenggalek. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Hanya dia, ihwan yang kutahu nomornya. Dan aku pikir dia tahu banyak tentang hal-hal seperti ini,” raut wajahnya getir, matanya masih merah bekas tangisan.
Di antara kerumunan orang menyeruak seorang laki-laki berseragam berbadan tegap. Dari bedge di lengan bajunya, Rara tahu kalau laki-laki itu seorang petugas Dishubpar.
“Ada apa, Mbak? Apa bisa dijelaskan di pos saja?” kata laki-laki itu, mengajak ketiganya menuju pos petugas. Orang-orang yang tadinya berkerumun, sebagian mengikuti mereka, sebagian lain berkasak kusuk masih penuh pertanyaan.
Di dalam pos, petugas itu menanyai Nuri dan Alin. Sementara di luar, Rara menceritakan kejadian yang baru dialaminya kepada orang-orang yang bertanya padanya. Mereka bertiga seperti menjadi artis dadakan yang dikerubuti wartawan. Beberapa petugas lain menyuruh mereka bubar. Ada yang menurut tapi ada juga yang masih bertahan ingin mengetahui lebih lanjut peristiwa itu.
“Saya akan mencoba kaset ini di tape recorder lain,” petugas yang menanyai Nuri berdiri dan keluar pos diikuti Rara, Nuri, Alin, dan seorang petugas lain. Mereka menuju sebuah warung. Setelah meminta ijin pada pemilik warung, petugas itu menyetel kaset yang dipegangnya di sebuah compo besar. Dengan seksama mereka mendengarkannya, tapi suara parau dan berat yang didengar Rara, tidak ada. Yang ada adalah suara Nuri yang dilanjutkan suara Mbah Uceng.
“Saya rasa, tidak ada masalah dengan kaset ini. Mungkin recorder Mbak yang bermasalah,” petugas itu berbicara tenang. Ia mematikan compo dan memutarnya lagi. Masih sama. Tidak ada suara aneh.
“Gimana?” Alin melirik Nuri dan Rara.
“Kita pulang saja. Kita coba putar kaset itu lagi di rumahku,” bisik Rara.
“Mungkin sebaiknya begitu,” Nuri menimpali.
“Mmm… kami akan mencoba menyetel kaset itu lagi di rumah, Pak. Kami minta maaf sudah membuat keributan di sini,” Alin berkata pada petugas Dishubpar. Laki-laki itu lalu mengeluarkan kaset dan menyerahkannya pada Alin.
“Ya sudah Pak, kami permisi dulu. Terima kasih, assalamu’alaikum…,” Alin, Rara, dan Nuri meninggalkan warung. Beberapa orang masih ada yang mengamati mereka keheranan. Mereka tidak ingin menggubris pandangan orang-orang itu pada mereka. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana agar mereka segera meninggalkan tempat itu dan pulang. Beruntung ada sebuah colt yang melintas, sehingga mereka tidak perlu berjalan kaki lagi.
Sampai di Tasikmadu, Alin dan Nuri segera mancari masjid terdekat. Rara menunggu mereka di dalam colt. Colt yang mereka tumpangi parkir cukup lama di Tasikmadu, mengumpulkan penumpang yang lebih banyak. Selang dua jam, mereka sudah sampai di kembali di Durenan dan mencegat bus untuk pulang.
Sampai di Jarakan, Rara turun dan menelepon Bapaknya, minta dijemput. Nuri dan Alin melanjutkan perjalanan sampai ke Terminal Surodakan, mengambil motor. Rara bermaksud menunggu kedua temannya di rumah. Setelah mereka bertiga berkumpul di ruang tamu rumah Rara, Alin memberikan kaset yang disimpannya di dalam tas kepada Rara.
“Kamu tidak akan berteriak lagi khan?” kata Alin sedikit ragu-ragu menatap Rara.
“Insya Allah,” ujar Rara meyakinkan. “Kita sudah di rumahku, tak ada yang perlu ditakutkan lagi. Tenang saja,” ia mengambil kaset itu dan memasukkannya ke radio tape, kemudian menekan tombol reward.
“Hey, lihat ini,” Nuri menyeletuk. Tangannya memegang recorder, menunjukkannya pada Rara dan Alin. “Sepertinya aku tadi sudah menggeser ini ke sini,” ia memperlihatkan sebuah logam silver yang bisa digeser. “Sepertinya ini mempengaruhi suara recorder ini.”
“Masa sih. Kita coba putar kaset wawancara itu di recorder ini lagi, tapi sebelumnya aku ingin mendengarkannya melalui radio tape-ku,” Rara mengalihkan perhatiannya pada radio tape-nya lagi dan menekan tombol play. Suaranya jelas, tak ada gemerisik, tak ada suara berat dan parau.
“Aku belum bisa berkomentar apa-apa,” kata Rara. Kemudian ia menyetop tape-nya, meng-eject kaset, mengambilnya, dan memberikannya pada Nuri. Nuri langsung menyetelnya di recorder. Mereka mendengarkan dengan seksama. Mereka bisa mendengar suara Nuri dalam kaset itu “…sekarang kita sudah berada di Karanggongso, di pantai pasir putih yang indah. Coba dengarkan suara lautnya …” Mereka tersentak mendengar kata-kata itu.
“Ri, itu suaramu khan?” kata Rara memandang Nuri. Ia mematikan recorder. “Coba aku geser ini ke sini,” katanya lagi. Ia menggeser logam silver yang ditunjukkan Nuri ke arah sebelum Nuri menggesernya lima menit lalu. Terdengar gemerisik, mendesis-desis.
“Nah… tentu saja. Ini khan equalizer, penyeimbang suara,” kata Rara tiba-tiba, mengagetkan kedua temannya. “Ah… aku tadi sudah berpikir yang tidak-tidak. Sempat terlintas di pikiranku kalau suara itu suara Nyi Roro Kidul atau semacamnya. Ah.. bodohnya,” ia mencengkeram tangannya. Nuri dan Alin menatap Rara, lalu menatap recorder yang masih gemerisik di meja.
“Berarti petugas tadi benar. Hh.. Aku rasa kita telah melakukan suatu kebodohan. Aku sempat mikir itu gara-gara aku pakai baju hijau. Hampir saja aku mempercayai mitos itu, yang katanya tidak boleh pakai baju hijau di pantai Selatan. Ya Allah… Kita sudah mengobrak-abrik Karanggongso dengan ketakutan kita yang tidak jelas,” Alin berujar.
“Ya, dan sepertinya karena kita tadi tidak sholat dulu. Ouh.. ya Allah, aku tak akan punya muka untuk pergi ke sana lagi,” Rara menggosok-nggosok wajahnya.
“Aku rasa kita terlalu bersugesti. Kita terjebak dengan tulisan kita sendiri. Sepertinya Allah sedang menguji kita. Sudah banyak yang kita lalui hari ini. Kita hampir putus asa. Tapi… kita akan meneruskan karya tulis kita khan?” Nuri menatap kedua sahabatnya. “Ayolah, dua hari lagi khan harus sudah jadi,” lanjutnya dengan penuh semangat.
Alin dan Rara tersenyum. Ruang tamu rumah Rara yang hanya 3×4 m menjadi sangat lapang bagi mereka. Kelegaan menyelimuti hati mereka sekarang.
Trenggalek, 19 09 ‘07 M/ 7 Ramadhan 1428 H