“Wa, kamu dah ngerjain tugas Ekonomi belum?” Sari memanggilku dari belakang.
“Lho, memangnya Ekonomi ada tugas ya, kok aku nggak tahu,” jawabku santai.
“Kamu khan kalo lagi pelajaran suka ngomong sendiri sama Manda, jadi nggak denger kalo di kasih tugas,” Sari menimpali.
“Eh, iya ya…Ya udah aku mau ngerjain tugasnya sekarang, mumpung gurunya belum datang,” aku tergesa-gesa mengambil buku Ekonomi.
“Ssst, Wa gurunya datang,” bisik Sari.
“Selamat pagi anak-anak” Aku menoleh ke arah datangnya suara. “Lho, kok yang ngajar Bu Anti,” pikirku dalam hati.
“Hari ini saya akan menggantikan B. Lilik untuk mengajar pelajaran Ekonomi. Saya ingin mengajar Tiwa lagi. Tiwa, saya akan mengajar kamu lagi karena sekarang kamu suka ramai sendiri,” suara lembut Bu Anti menyapaku. Dengan wajah pucat Bu Anti tersenyum. Tangannya yang dingin menyentuh tanganku dan mengajakku pergi.

*****

TILILIT…TILILIT…TILILIT……
Aku terkejap. Kulihat lampu bohlam yang menghias langit-langit kamarku masih berpendar. Jam beker yang sejak tadi berbunyi menunjukkan jam setengah 3 pagi. Heeh … aku menghela napas panjang. Hari ini aku memang sengaja bangun lebih pagi agar aku bisa makan sahur. Belum ada aktivitas berarti di luar kamarku. Suasana masih lengang ketika aku menjejakkan kakiku di dapur. Aku mengambil panci kecil di bawah rak piring.
“Wa, kok nggak bangunin ibu kalau mau puasa?”
“Ah…,” aku terkejut. Tiba-tiba ibu sudah berada tepat di belakangku.
“Eeeng…, Tiwa takut mengganggu ibu. Nanti Piki jadi ikut terbangun,” jawabku.
“Hemm… sini pancinya. Biar ibu saja yang masak air,” wanita yang dinikahi Bapak sejak tiga tahun lalu itu berujar dengan lembut. Wanita berparas lembut itu sama sekali tidak mengesankan seorang ibu tiri kejam seperti yang sering ditampilkan di televisi. Hatiku sering sebal jika melihat sinetron yang menampilkan sosok ibu tiri kejam. Tidak semua ibu tiri itu kejam. Justru wanita yang sekarang memasakkan air untukku ini sangat menyayangiku dan kakakku. Kehadirannya benar-benar menjadi pengganti ibu kandungku yang telah meninggal tujuh tahun lalu.
“Wa, kok ngelamun? Kamu ambil air wudhu dulu sana gih biar nggak lengket matanya. Sekalian sholat tahajud ya,” kata-kata ibu membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya Bu. Tapi lauknya belum digoreng,” jawabku.
“Sudah, kamu ke kamar mandi saja dulu. Biar ibu yang mengerjakannya”
Akhirnya aku membiarkan ibu dan beranjak ke kamar mandi. Rasa dingin menghinggapiku ketika aku membasuh muka. Rasa dingin ini mengingatkanku pada mimpi semalam. Bu Anti tiba-tiba muncul dan ingin mengajarku lagi. Bu Anti adalah guruku SMP dulu. Setahun yang lalu beliau meninggal karena sebuah kecelakaan. Cara Bu Anti mengajar sangat berkesan untukku hingga aku masih mengingat beliau sampai saat ini. Namun, sejak Bu Anti meninggal, aku tak pernah memimpikan beliau. Hanya beberapa hari ini saja Bu Anti datang ke dalam mimpiku. Haahh… aku mengambil napas panjang untuk menenangkan diri.
Setelah sholat rasanya semua menjadi segar kembali. Aku menaruh mukenaku di atas kasur dan duduk menyelonjorkan kaki sebentar.
“Tiwa, kamu sudah selesai belum? Ini makannya sudah siap,” ibu memanggilku.
“Ya, bu,” bergegas aku menuju ke dapur.

*****

Suasana sekolah rupanya sudah mulai ramai ketika aku sampai di gerbang depan. Mimpi semalam masih membayangiku. Dengan sedikit malas aku mengayunkan langkah.
“Waa … ,” Manda menepuk lengan kananku.
“Hei !” aku ganti menyapanya.
“Lho, tumben kamu berangkat jam segini. Upacara dah mau dimulai tuh”
TEET…TEET … TEET … TEET…
“Wah, udah masuk. Ayo kita ke kelas naroh tas. Ntar dimarahi Pak Helmy kalau nggak segera siap di lapangan,” Manda menggelandang tanganku.
Mulai terpikir olehku kata-kata Bu Anti dalam mimpiku semalam. Bu Anti benar, sejak masuk SMA aku menjadi lebih ramai, terutama jika ada Manda. Rasanya aku tidak bisa berhenti tertawa karena tingkahnya. Yah, walaupun Manda anak yang ramai, dia adalah teman yang baik. Tidak ada dia rasanya tidak asyik. Seperti iklan di teve “Nggak ada lo nggak rame”. “Hihihi…,” aku tertawa sendiri.
“Heh, kamu kok ketawa sendiri Wa,” Manda menepuk tanganku.
“Ntar ada setan lewat, kesambet baru tau rasa kamu”
“Hahaha… emang ada setan. Tuh di depanku,” aku menimpali.
“Hah mana?” Manda celingukan dan tiba-tiba setelah sadar dia menepuk lenganku.
“Kurang ajar ya. Teman sendiri dibilang setan. Kamu juga setan dong. Khan temannya setan,” Manda membalasku.
“Hahaha … ,” akhirnya kami berdua sama-sama tertawa.

*****

Hah, lega rasanya bisa sampai di rumah. Hari ini bus yang biasanya kutumpangi agak telat datangnya. Untungnya aku sudah sholat dulu di sekolah. Sudah satu jam aku menunggu bus. Capek banget. Ingin rasanya aku segera merebahkan diri di kasur.
“Assalamu’alaikum,” aku masuk ke dalam rumah.
“Eh, Wa’alaikumsalam,” bapak menjawab salamku.
“Lho Wa, kok baru pulang,” tanya bapak.
“Eng, itu Pak. Busnya telat,”
Aku langsung duduk di sebelah Bapak.
“Weleh weleh, sudah makan belum? Ni lagi tasnya ditaruh dulu dong. Ganti baju juga belum sudah nempel-nempel Bapak. Bau tuh,” Bapak mendorong tasku.
“Hehehe…Kalau gitu Tiwa ke kamar dulu ya Pak,” aku beranjak ke kamar sambil cengengesan.
Baru saja aku meletakkan tas di meja belajar, tiba-tiba Bapak menyeletuk dari ruang tengah.
“Wa, dengar suara gonggongan anjing nggak tadi malam?” Bapak bertanya padaku.
“Hah, tadi malam?” aku terkejut. Aku langsung menghampiri Bapak.
“Enggak tuh,” jawabku.
“Wa, biasanya kalau Bapak dengar gonggongan anjing kayak gini ada yang mau meninggal. Emang tetangga kita ada yang sakit ya?”
“Kayaknya nggak ada deh Pak,” jawabku. Aku tertegun mendengar kata-kata Bapak. Mimpi itu, gonggongan anjing, apa tandanya? Kalau bukan tetanggaku, “Jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa Wa?” Bapak mendengarku bergumam.
“Oh, nggak Pak,” aku ngeles.
KRRIING…KRRIING… tiba-tiba telepon berbunyi.
“Biar Tiwa aja Pak yang ngangkat,” aku beranjak menuju telepon.
“Assalamu’alaikum,” aku menyapa orang di seberang sana.
“Wa’alaikumsalam,” jawab orang di seberang.
“Ah, kak Widi ya?” aku menebak. Suaranya jelas-jelas suara kak Widi, kakakku yang bekerja di Surabaya.
“Hai Wa, bagaimana kabarnya?”
“Baik kak”
“Bagaimana Bapak? Ibu dan Piki bagaimana juga kabarnya?”
“Semuanya baik kak”
“Oh gitu ya. Ini nih Wa, tadi malam kak Widi tuh mimpi gigi kak Widi tanggal satu. Jadinya kak Widi tuh takut kalau terjadi apa-apa di rumah,” seakan disentak, kata-kata kak Widi membuatku lemas. Aku teringat dengan mimpi kak Widi tentang giginya yang tanggal waktu almarhumah ibuku meninggal.
“Halo, Wa. Wa… kamu masih disitu kan?”
“Eh, iya kak. Emmm … mau bicara sama bapak nggak?”
“Nggak usah, Wa. Gitu aja. Kakak cuma mau tanya itu aja kok. Ya udah, salam aja buat bapak, ibu, dan Piki ya”
“Oh iya…iya. Entar Tiwa sampein”
“Assalamu’alaikum,” kak Widi menutup teleponnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku.
“Siapa Wa?” bapak bertanya.
“Kak Widi, Pak. Cuma nanya kabar aja kok,” jawabku.
“Oya, kak Widi kirim salam buat Bapak,” aku menambahkan.
Aku langsung pergi ke kamar. Tiba-tiba saja terbayang olehku hari kematianku sendiri. Tanda-tanda itu seperti firasat bagiku. “Ya Allah, secepat inikah hamba harus pergi?” aku berujar dalam hati. Saat ini umurku baru enam belas tahun. Haruskah aku mati di usia semuda ini? Ketakutan merayapi tubuhku.

*****

Sedih rasanya kalau melihat keceriaan teman-teman di kelas. Haruskah aku meninggalkan mereka saat ini? Hatiku menjerit penuh ketakutan.
“Hai, kenapa Wa? Kok ngelamun?,” Manda mengagetkanku.
“Ada masalah ya?” Manda bertanya padaku. Akhirnya aku menceritakan semua yang kurasakan saat ini pada Manda. Tentang mimpiku, tentang gonggongan anjing, tentang mimpi kak Widi, semuanya. Tiba-tiba saja Manda menangis setelah aku selesai bercerita. Merasa akan kehilangan, aku juga ikut menangis. Kami berdua menangis di antara kebisingan kelas yang dibuat oleh teman-teman.

*****

Minggu ini adalah minggu yang menyibukkanku dengan tugas-tugas dari guru. Ketakutan itu sedikit demi sedikit tertutupi dengan kesibukanku. Apalagi hari ini aku harus presentasi di depan kelas. Aku sibuk menyiapkan materi yang akan kupresentasikan.
Bel masuk berbunyi ketika aku selesai menyiapkan bahan presentasi. Bu Marina masuk ke kelas dan menyapa,
”Pagi anak-anak”
“Pagi buuu…,” teman-temanku serentak menjawab.
“Baik, hari ini kita lanjutkan presentasi dari kelompok selanjutnya. Siapa yang bertugas?” Bu Marina bertanya.
“Saya, Bu,” aku langsung beranjak ke depan kelas. Aku menyalakan OHP dan memulai presentasiku. Tiba-tiba saja kepalaku berkunang-kunang. Tubuhku lemas. Hah, bayangan kematian itu mendatangiku lagi. “Apa sekaranglah saatnya aku pergi?” pikirku. Suara teman-teman tiba-tiba menjadi samar, penglihatanku dan suasana menjadi serba gelap.

*****

Ya Allah, apa aku sudah mati? Sayup-sayup aku mendengar keramaian di luar sana. Perlahan aku melihat ada dua sosok di sampingku. Hah, apa itu malaikat Munkar dan Nakir? Aku takut aku tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.
“Wa, apa kamu nggak papa?” bayangan dua sosok di sampingku semakin jelas.
“Hah, Manda,” aku terkejut. Di sebelahnya ada Mbak Nisa, penjaga UKS sekolahku.
“Aku pikir aku sudah mati, Man” aku bergumam.
Heehh…. Manda menghela napas.
“Tiwa, kamu masih hidup kok. Coba aja kucubit pipimu,” sedikit bergurau Manda mencubit pipiku.
“Aauu…sakit tau,” aku mengelus-ngelus pipiku.
“Heh, Manda. Tiwa kan baru sadar. Jangan dicubit dong,” Mbak Nisa memarahi Manda.
“Hehehe…maaf ya, Wa. Eng, kamu tadi pingsan. Katanya Mbak Nisa tadi tekanan darah kamu turun,” Manda melirik Mbak Nisa.
“Huu, Manda .. Manda. Jagain Tiwa baik-baik ya. Mbak Nisa mau ngusir temen-temen kamu tuh yang pada ngotot mau masuk,” Mbak Nisa beranjak pergi.
“Hemm, Tiwa. Kamu masih mikirin soal itu ya,” ucap Manda tiba-tiba.
“Wa, hidup, mati, jodoh, rejeki, itu semua Allah yang ngatur,” wajah Manda menjadi serius.
“Saat hari itu tiba, kematian maksudku, tidak ada seorang pun yang tau. Setiap saat kita harus siap nyawa kita diambil,” Manda menghela napas dan tersenyum padaku. Tak terasa air mataku menetes di pipi. Manda ikut menangis. Dan kami berdua berpelukan sambil menangis.

by syamsya hayyu, Trenggalek 4 April 2007

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.”(Q.S Al-Anbyaa’ : 35)

Thank you friend…because you believe me to hear your tail and give me permit to write your tail to be a short story. I want you will be a strong man and belive that Allah always love you.