Coffee Box
Teruntuk sahabat-sahabat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang salah satu komoditas penting Indonesia yang bernama KOPI
BERKENALAN DENGAN KOPI
Kopi merupakan salah satu di antara tiga minuman non-alkoholik (kopi, teh, coklat) yang tersebar luas. Sejak abad ke-20 produksi kopi dunia telah meningkat menjadi lebih dari 8 kali lipat (Yahmadi, 2007). Orang-orang Arab telah mengenal kopi sejak abad ke-6, tetapi minuman kopi telah dikenal di Etiopia sejak jaman dahulu kala (Loo, 1983). AAK (1988) mengatakan bahwa pada mulanya orang meminum kopi bukan berasal dari biji, melainkan cairan daun kopi yang masih segar atau ada juga yang menggunakan kulit buah yang diseduh dengan air panas. Setelah ditemukan cara memasak kopi bubuk yang lebih sempurna dengan menggunakan biji kering yang disangrai, akhirnya penggemar kopi meluas di berbagai daerah bahkan berbagai negara.
Sejak dikenal oleh dunia, kopi terus dibudidayakan dan meningkat perkembangannya menjadi komoditi penting yang menghasilkan devisa negara. Di Indonesia, nilai ekspor kopi rata-rata pada tahun 1960-an adalah sekitar 6-7% dari nilai ekspor total. Namun menjadi semakin menurun, dan pada tahun 2000-an hanya tinggal sekitar 0,4-0,5%. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor Indonesia dan semakin merosotnya harga kopi di pasaran dunia sejak sistem kuota ICO dibekukan tahun 1989. Meskipun begitu, sumbangan ekspor kopi terhadap nilai ekspor hasil pertanian cukup besar yaitu 12-13% (Yahmadi, 2007).
Di Indonesia, tanaman kopi diperkenalkan pertama kali oleh VOC antara tahun 1696-1699. Pada awalnya, penanaman kopi hanya bersifat percobaan. Namun, karena hasilnya memuaskan dan dipandang cukup menguntungkan sebagai komoditas perdagangan maka VOC menyebarkan bibit kopi di berbagai daerah agar penduduk dapat menanamnya, kemudian kebun-kebun besar pun didirikan dan akhirnya tanaman kopi tersebar di Indonesia seperti Jawa, Lampung, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sumatra Selatan dan daerah lainnya.
Jenis kopi yang pertama kali ditanam di Indonesia adalah Kopi Arabika (Coffea arabica) yaitu pada tahun 1696. Selanjutnya, perkembangan jenis kopi ini mengalami kemunduran mulai tahun 1876 sebagai akibat serangan penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendawan Hemilia vastantrix. Kemudian pada tahun 1900 para pengusaha perkebunan memasukkan jenis Coffea canephora varietas. Robusta atau yang lebih dikenal kopi Robusta ke Indonesia. Walaupun mutu kopi kopi robusta lebih rendah dibandingkan dengan jenis kopi arabika, tetapi kopi robusta lebih resisten terhadap serangan penyakit karat daun, syarat tumbuh dan kemampuan produksinya jauh lebih tinggi, serta lebih ringan dalam pemeliharaan. Saat ini hampir 95% dari luas areal tanaman kopi di Indonesia adalah kopi Robusta (Najiyanti dan Danarti, 1999).
Daftar Pustaka:
AAK. 1988. Budidaya Tanaman Kopi. Yogyakarta: Kanisius.
Loo, T.G. 1983. Penuntun Praktis Mengelola Teh dan Kopi. Jakarta: P.T. Kinta.
Najiyati, S. dan Danarti. 1990. Budidaya dan Penanganan Lepas Panen Kopi, Jakarta: Penebar Swadaya.
Yahmadi, Mudrig. 2007. Rangkaian Perkembangan dan Permasalahan Budidaya dan Pengolahan Kopi di Indonesia. Surabaya: Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI)